Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Gubernur Ajak Masyarakat Perangi Narkoba

Gubernur Maluku, Said Assgaff.
AMBON, INFO BARU--Guna mengantisipasi semakin bertambahnya pasien baru korban penularan HIV/AIDS di Maluku,  Gubernur Provinsi Maluku, Said Assagaff mengajak seluruh masyarakat di daerah ini untuk memerangi Narkotika dan Obat Terlarang (Narkoba). Narkoba harus dijadikan musuh bersama.

“Kondisi di daerah kita ini harus menjadi keresahan bagi semua orang, untuk selanjutnya memotivasi kita baik Pemerintah Daerah, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, maupun berbagai komponen masyarakat untuk menyatakan perang terhadap Narkoba, dan menghimbau masyarakat untuk merobah perilaku hidup yang berpotensi pada penularan HIV/AIDS,” kata Gubernur Maluku, yang disampaikan asisten III Setda Maluku, M.Z Sangadji dalam sosialisasi bahaya HIV/AIDS dan Narkoba yang  berlangsung di Gedung PPK, Kamis (3/7) kemarin.

Menurutnya, di tahun 2013, pemakaian Narkoba dengan menggunakan jarum suntik, memiliki andil yang cukup besar dalam menyuplai penularan virus HIV/AIDS bagi pasien baru di Maluku. Dari data yang diperoleh Pemerintah Provinsi Maluku, melalui hasil analisis Komisi Penanggulangan AIDS (KPA), diketahui sebanyak 39,9 persen penularan penyakit mematikan tersebut adalah melalui penggunaan Narkoba dengan memakai jarum suntik.

Sementara untuk tingkat prevalensi pemakaian Narkoba dalam skala Nasional, kata Assagaf, Maluku menempati urutan ke sebelas. Ia juga mengatakan, berdasarkan rilis terakhir yang disampaikan KPA Provinsi Maluku, pada tahun 2013 terdapat 257 kasus AIDS baru di Maluku. Data tahun 2013 ini, mengalami penurunan dari tahun 2012 lalu yang mencapai angka 349 kasus.

Kota Ambon tercatat memiliki kasus terbanyak. Untuk Triwulan I tahun 2014, ditemukan 30 kasus baru HIV/AIDS. “Menyikapi kondisi tersebut, saya instruksikan kepada dinas terkait untuk lebih gencar lagi melakukan upaya-upaya pencegahan, dan mengintensifkan sosialisasi kepada kelompok-kelompok sasaran yang rentan terkena penyakit itu”.

Ia menduga, pencegahan HIV/AIDS di daerah ini belum dilaksanakan secara maksimal karena kurangnya pengetahuan dan pemahaman yang benar dari masyarakat. Untuk itu, Kegiatan sosialisasi yang dilaksanakan, sangat penting sebagai upaya memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat.

Pemerintah, lanjut Assagaff, tentu memiliki tanggung jawab pencegahan terhadap penyakit ini, dan salah satu program penangulangan yang sudah diluncurkan sejak tahun 2010 adalah Aku Bangga Aku Tauh (ABAT). Program ini merupakan program sosialisasi komprehensif mengenai HIV/AIDS bagi penduduk usia 15-24 tahun.

”Sasaran terhadap kelompok umur tersebut bukan tanpa alasan, sebab tingkat usia itu dinilai rawan akan penyelahgunaan seks dan Narkoba yang merupakan dua penyebab utama penularan HIV/AIDS,” ujar Assagaff.

Dikatakan, kesehatan merupakan salah satu faktor kunci keberhasilan pembangunan di suatu daerah, karena dengan kesehatan yang prima masyarakat akan mampu melakukan aktifitas apapun demi meningkatkan taraf hidup yang lebih baik, serta dapat membangun masa depan mereka yang lebih cerah.

Karena itu, kesadaran masyarakat untuk merubah perilaku hidupnya menjadi titik sentral terciptanya kondisi kesehatan yang diharapkan dapat dimulai dari lingkungan keluarga. Keluarga lanjutnya, hendak menjadi tempat pertama bagi anak-anak usia dini dalam mengenal bahaya Narkoba dan HIV/AIDS, sehingga mereka bisa terhindar dari penggunaan Narkoba serta tertular HIV/AIDS.

Untuk diketahui,  kegiatan tersebut merupakan kerjasama Panitia HUT ke-67 Koperasi Indonesia Provinsi Maluku dengan Dinas Kesehatan Provinsi Maluku. (R0L)