Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Widget HTML #1

Makna Menjadi Seorang Pemenang

Opini Lokal.

Sebuah Telaah Kritis Paska Pilpres 2014

Kemenangan adalah esensi dari yang namanya kompetisi. Semua orang berkompetisi untuk menjadi pemenang. Pemain Bola berkompetisi untuk menjadi pemenang, pebisnis berkompetisi untuk menjadi pemenang, politikus berkompetisi untuk menjadi pemenang, dan semuanya berlomba – lomba untuk menjadi pemenang, tidak ada yang mau menjadi pihak yang terkalahkan. Makna kemenangan terasa sangatlah penting buat mereka yang terjun langsung ke arena kompetisi. Sebagai competitor mereka akan melakukan berbagai cara untuk keluar sebagai pemenang. 

Strategi dan taktik menjadi bagian dari cara untuk meraih yang namanya kemenangan. Saking pentingnya yang namanya kemenangan, membuat para competitor merasa perlu untuk melakukan semua hal, termasuk menabrak batas-batas norma, etika, dan hukum yang berlaku di masyarakat. Berbagai cara dilakukan, dari pendekatan-pendekatan persuasive sampai dengan intimidasi, kecurangan dan pelanggaran lainnya dianggap sah-sah saja, yang penting keluar sebagai pemenang. Spirit kemenangan sudah tidak lagi di dudukan pada porsinya yang memiliki nilai ideal, melainkan sudah bergeser pada ranah pengkultusan siapa yang paling terbaik. 

Dalam perspektif ini biasanya para competitor merasa akan menjadi yang terbaik kalau kemenangan itu diraihnya. Meskipun kemenangan yang diraihnya tidak memakai pendekatan-pendekatan yang elegan dan demokratis. Pada beberapa kasus, kemenangan tidak lantas menjadikan seseorang sebagai figure yang bisa dicontohkan dan menjadi patron buat yang lain, tapi kemenangan yang diraihnya menjadi cemohan oleh banyak orang terhadapnya. 

Mantan presiden Amerika Serikat George W. Bush yang memenangkan pemilihan presiden pada tahun 2004 dikenang sebagai pecundang tidak hanya dinegaranya, melainkan diseluruh dunia. Ia menutup masa jabatannya dengan krisis keuangan di Amerika Serikat, sedangkan rivalnya Jhon Kerry, meskipun kalah dalam pemilu melawan George W. bush , tetapi dia tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting yang memiliki konstribusi besar kepada Amerika dan Dunia. Dalam dunia Olahraga, kita tentunya teringat dengan sebuah kasus yang menimpa Ben Johnson dalam Olimpiade Seoul tahun 1988? Ia dinyatakan sebagai peraih medali emas dan pemecah rekor dunia untuk kategori lari paling bergengsi yaitu sprint 100 meter. Sebelum perhelatan Olimpiade berakhir, Ben Johnson terbukti menggunakan doping. Pesaingnya Carl Lewis memang tidak pernah menjadi yang tercepat dalam Olimpiade itu, tetapi dia dengan penuh antusias menyalami Ben Johnson manakala dia melihat Ben menjadi yang tercepat dan pemecah rekor. Sebagai rival Ben, Carl Lewis meskipun kalah tetapi dia tetap memberikan respek yang tinggi terhadap Ben. 

Meskipun pada akhirnya Carl Lewis yang dinobatkan menjadi pemenang menggantikan Ben Johnson yang tersandung kasus doping. Sekalipun Ben tidak tersandung kasus doping dan juara itu diberikan buat Carl Lewis tetapi orang tetap akan mengatakan kalau Carl Lewis layak menjadi pemenang. Apa yang menimpa George W. Bush dan Ben Johnson adalah sebuah replikasi tentang makna kemenangan. Kemenagan bukan soal hasil tetapi cara kita menggapainya. Karena esensi kemenangan itu berkaitan dengan cara pandang. Bagaimana kita mewujudkan kemenangan itu dalam kehidupan kita sehari-hari. 

Apa yang akan kita sampaikan buat competitor kita setelah mereka berhasil kita kalahkan, dan apa yang akan kita lakukan setelah amanah kemenangan itu diberikan kepada kita. Indonesia baru saja menyelesaikan sebuah pesta demokrasi yakni pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, sirklus lima tahunan yang merupakan regenerasi kepemimpinan sebagai wujud penguatan kedaulatan Rakyat. Momentum ini sekaligus mempertegas eksistensi rakyat sebagai penguasa sah Republik ini. Tidak ada kekuatan yang melebihi kuasa rakyat dalam memandatkan amanah kepemimpinan kepada Presiden dan Wakil Presiden yang dianggap paling ideal dalam menahkodai Bangsa ini lima tahun kedepan. 

Tanggal 9 juli adalah momentum paling bersejarah bagi pasangan no urut 2 (Jokowi-JK). Berdasarkan perhitungan real count KPU, pasangan ini berhasil keluar sebagai pemenang dengan raihan suara sekitar 53,15% mengalahkan rivalnya pasangan no urut 1 (Prabowo-Hatta) yang mendapat raihan suara 46,85%. Meskipun kita ketahui bersama kalau ada proses gugatan yang dilayangkan oleh pasangan no urut 1 ke Mahkamah Konstitusi (MK), tetapi keputusan KPU dipastikan memiliki kekuatan yang legitimate dan berpotensi menang. Pada konteks ini penulis harapkan paska putusan Mahmakah Konstitusi, ada jiwa kenegaraan yang ditunjukan oleh kedua pasangan calon untuk sama-sama mengakui kemenangan dan kekalahan masing-masing. Yang terpilih mengucapkan selamat kepada pasangan lainnya yang belum diberikan amanah oleh rakyat Indonesia “selamat, anda telah mejadi lawan yang hebat, dan membuat saya menjadi lebih baik” dan kemudian lawannya balik dan berkata “selamat, anda layak menjadi pemenang. 

Semoga kemenangan ini bisa dijalankan sebaik mungkin, demi kepentingan Bangsa dan Negara”. Inilah yang menjadi ekspektasi besar seluruh Rakyat Indonesia, merindukan sosok kenegaraan dari putra-putra terbaik yang telah berkompetisi secara baik. (*)

Oleh : Abubakar Solissa 
Penulis adalah : ketua Bidang Ekonomi Politik HMI Cabang Ambon