In Memoriam Almarhum Taher Lating

INFO BARU--Konsistensi Seorang Wartawan Sejati Memang hanya sakit berlebihan (sakt parah) dan hanya maut yang membuatnya surut menulis. Ia memberitakan berbagai peristiwa sejak proses pencetakan menggunakan stensil (mesin pencetak lembaran dalam jumlah banyak) hingga menggunakan mesin cetak modern. Ia menulis dengan pena dan kertas, mesin tik hingga mahir menggerakkan mouse komputer. Ia menulis diterangi lampu pelita hingga lampu philips. Ia adalah wartawan tiga generasi di Maluku yang tersisa.
Sederhana, konsisten, rendah hati dan sungguh welas asih. Kamus selalu ada disampingnya. Di laci meja rewot, atau di samping komputer pewotnya, namun matanya tajam melihat huruf per huruf, kata per kata, kalimat per kalimat, hingga dipastikan sesuai.
Dan luar biasa, seumur mengenalnya saya belum pernah menemukan editan berita tanpa kekurangan atau kesalahan satu huruf sekalipun. Ia sangat berhati-hati dalam membungkus sebuah berita untuk disuguhkan besok ke khalayak. Tahir Lating, Maluku telah sangat kehilangan. Ia wartawan sejati.
Tak mau berpindah ke lain hati, meskipun godaan duniawi terus menerus menghantui. Rumahnya setiap kali kebanjiran, karena dindingnya bersebelahan dengan kali Batu Merah, tepatnya di Gang Banjo, Negeri Batu Merah, Kota Ambon. Hingga suatu ketika ia sangat sedih karena beberapa buku termasuk kamus kesayangannya dan komputer tua di rumahnya terendam air. Terakhir bertemu, dua tahun lalu, kata pertama yang keluar dari mulutnya, “Masih terus menulis?”.
Saya memahami betul apa yang dimaksudkan, karena itu jawaban saya membuat matanya berbinar, sesuai yang Ia harapkan,”Beta masih menulis Bapa Ta,” jawab saya. Sejak masih di Koran Info kemudian berubah nama menjadi Harian Pagi Info Baru akhir 2001 hingga 2005, bersama Mohtar Touwe, Hamdi Jempot, Insani Syahbarwaty dan beberapa teman lainnya banyak belajar dari Tahir Lating. Saya menganggabnya guru besar.
Dalam beberapa kali diskusi, Ia memberikan pelajaran berharga yang kami petik, yaitu, konsistensi memberitakan, menginformasikan, menuangkan rangkaian peristiwa untuk diketahui publik. Bagi seorang Bapa Ta, begitu kami akrab memanggilnya, menulis itu sangat penting. Menulis bukan sekedar memberitakan, menginformasikan atau menuangkan rangkaian peristiwa saja.
Menulis baginya lebih dari itu. Menulis itu jujur menyampaikan kebenaran. Karena akan menyampaikan sesuatu yang benar, maka ia sangat berhati-hati merangkai huruf hingga untaian paragraf. Jangan sampai ada yang keliru. Apabila ada yang salah, pembaca akan berpindah ke berita lainnya atau menutup koran, dan itu sangat mengecewakan. Terlebih lagi kita dianggab tidak benar meskipun hanya salah dalam penulisan huruf, apalagi menyimpang dari peristiwa sesungguhnya.
Setelah harian Info Baru berhenti terbit sementara waktu, Bapa Ta terus menulis di Harian Ekspresi, koran terakhir hingg ajal menjeputnya atas ajakan pimpinan redaksinya Yusnita Tiakoly, juga muridnya. Terus konsisten menulis meskipun kadang Ia harus berjalan kaki dari Batu Merah menuju jalan A.Y Patty, begadang kadang hingga pukul tiga dini hari. Ia sangat menikmati karena menjiwai.
Di tahun ini, kematian Gabriel Garcia Marquez pada 17 April lalu ditangisi dunia, itu bagi mereka yang mengenal Marquez dan karyanya, dipuji sebagai raksasa sastra modern, kemudian sepanjang hayatnya, Marquez menegaskan bahwa dia selalu adalah seorang wartawan.
Kemudian Marquez penulis novel dan cerpen memabukkan, dinilai hebat media dunia dengan karya-karyanya, Chronicle of a Death Foretold, Love in the Time of Cholera, dan Autumn of the Patriarch, laris manis melebihi karya cetak apa pun dalam bahasa Spanyol, selain Injil. Novel epik yang dia tulis pada 1967, One Hundred Years of Solitude, terjual lebih dari 50 juta kopi dan diterjemahkan ke lebih dari 25 bahasa. Bagi saya Gabriel Garcia Marquez tidak sehebat Tahir Lating. Meskipun terakhir Tahir Lating hanya menerima AJI Award 2003 dengan hadiah sepenggal tropi dan tabungan 500 ribu rupiah plus sedikit pujian dari ketua AJI tentang konsistensinya.
Gabriel Garcia Marquez dengan segudang penghargaan dunia, Gabriel Garcia Marquez pasti menitipkan lebih dari 500 milyar rupiah untuk anak-anaknya. Gabriel Garcia Marquez diakhir hayatnya menyatakan ia tetap seorang wartawan. Tahir Lating tidak memiliki apa-apa. Tahir Lating hanya mewariskan rumah dua kamar berdinding bata yang belum dihaluskan. Tidak ada kursi mewah, tidak ada tabungan untuk anak-anaknya.
Tidak ada sesuatu yang layak untuk diwariskan, tetapi diakhir hayatnya Tahir Lating tetap seorang wartawan, bukan dengan bicara tetapi dengan konsistensinya menjadi pewarta. Tahir Lating wartawan sejati yang telah mewariskan konsistensi kepada generasi. “Menulis itu harus sesuai, siapapun dia, apa yang sebenarnya terjadi harus sesuai disampaikan.
Apa yang terfikirkan harus sesuai dengan tindakan, itulah gambaran seorang yang benar dan jujur dalam menulis,” pesan Tahir Lating. Selamat jalan Bapa Ta, kami bangga memiliki Anda.
Oleh: Nour Payapo
Seorang Jurnalis, sahabat, rekan kerja Almarhum