Lokalisasi Tanjung Batu Merah Rawan
Dinsos Mengaku tidak ada PSK Dolly

AMBON, INFO BARU--Keberadaan lokalisasi Tanjung Batu Merah (TBM), kecamatan Sirimau Ambon yang tenar sebagai pusat aktivitas pekerja seks komersial (PSK) di Ambon itu, sudah sepatutnya mendapat perhatian serius dari semua pihak, utamanya Pemerintah, tenaga medis, LSM, akademisi, tokoh Agama maupun masyarakat.
Pasalnya, para pria hidung belang atau pengunjung rutin mendatangi lokasi TBM yang kedudukannya di tengah pemukiman warga.
Dari penelusuran Info Baru di lapangan menerangkan, sekarang lokalisasi TBM itu lagi steril atau rawan penularan virus mematikan atau HIV/AIDS.
Faktanya, sesuai data yang berhasil dihimpun di lapangan, sebanyak 40 persen dari total 201 PSK yang tersebar di 32 Wisma TBM saat ini positif terinfeksi HIV/AIDS.
Fatalnya, ketika ada pemeriksaan dan uji sampel darah oleh pihak Dinas Kesehatan kota Ambon terhadap para PSK-nya, diketahui virus mematikan itu nyaris menjangkit para PSK yang bermukim di 32 Wisma TBM.
“Jika setiap bulan ada tim dari Dinas Kesehatan kota Ambon turun lapangan untuk pemeriksaan uji sampel darah, di 32 Wisma TBM itu hanya empat sampai lima orang yang dinyatakan negative ODHA,” demikian hal ini diungkapkan salah satu sumber terpercaya yang meminta namanya tidak dikorankan oleh Info Baru, Senin (8/9), di Ambon.
Sumber itu mengatakan, hingga kini pihak terkait misalnya Dinas Kesehatan kota Ambon dan Dinkes Provinsi Maluku maupun LSM peduli HIV/AIDS pun, tidak memiliki data otentik atau resmi terkait berapa jumlah pasien atau Orang Derita HIV Aids (ODHA) di TBM yang berstatus illegal tersebut.
Jika ada data, lanjutnya, itupun dijadikan sebagai bahan konsumsi internal instansi terkait. Padahal, semestinya transparansi informasi itu sangat penting, apalagi sekelas informasi penularan HIV/AIDS.
Menurutnya, infomasi tersebut tentu sangat diperlukan publik luas baik Kota Ambon maupun Maluku umumnya, agar dapat dijadikan bahan pertimbangan terutama bagi para pria hidung belang.
Ia menilai, meski kerja teknis saja pemerintah daerah tidak memiliki itikad baik untuk mengatasi penyebaran virus HIV/AIDS di Maluku terutama di lokalisasi Tanjung Batu Merah.
“Memang benar, ada program penanganan khusus untuk ODHA di TBM oleh Pemerintah melalui Dinkes dan Dinas Sosial maupun LSM. Tapi, kami menganggap itu hanya akal-akalan. Jika benar pemerintah serius untuk mengatasi masalah HIV/AIDS, mengapa tidak diumumkan saja ke publik akan bahaya lokalisasi TBM saat ini. Atau tempatnya seksalian ditutup saja. Karena berada di tengah pemukiman warga serta mengancam nyawa manusia,” tegasnya.
Untuk itu, sumber ini meminta agar pihak berkompeten yang terlibat dengan aktivitas lokalisasi TBM tidak hanya sekedar meraup keuntungan, sementara ancaman HIV/AIDS hingga mengancam nyawa orang tidak diseriusi oleh Pemerintah serta pemilik TBM itu sendiri.
Menurutnya, penularan HIV/AIDS yang mengancam keselamatan warga itu, dikabarkan pula lokalisasi tersebut juga saat ini menampung hampir 20 orang PSK baru asal Dolly-Surabaya tanpa diketahui Pemerintah Kota Ambon. Bahkan kabar tersebut buru-buru dibantah Kepala Dinas Sosial (Kadinsos), Kota Ambon, Wa Ode Muna Karepesina, saat dikonfirmasi sejumlah wartawan belum lama ini.
Wa Ode Muna beralasan, kalau beberapa orang PSK yang baru masuk ke Ambon iktu bukan dari Dolly-Surabaya.
Langkah pencegahan yang sudah dilakukan Pemda selama ini yakni Dinkes selalu rutin memberikan faksinasi baik kepada ODHA maupun PSK lain yang memiliki daya tahan tubuh rendah.
“Setiap tiga bulan sekali Dinkes juga memberikan vaksinasi dan juga terus melakukan pantauan lapangan,” katanya. (R0L)