Pasawari Maluku Kaya
Basudara Maluku Kaya…
Dari bukti-bukti arkeologis, selama 11 ribu tahun terakhir, manusia berupaya membangun peradaban di berbagai zona planet bumi. Para filsuf Yunani era pra-Masehi berupaya mengetahui, apa pilar-pilar utama dari peradaban manusia. Para filsuf menemukan bahwa pilar-pilar peradaban masa itu ialah oikos (nilai-nilai dari level keluarga ), ethnos (nilai yang membetuk pijakan dasar, ciri khas, dan kesatuan terkecil masyarakat), ethos (kerja), dan teknos. Teknos adalah cara dan alat menyelesaikan masalah sehari-hari manusia. Misalnya, peradaban kuno Cina mewariskan kertas dan serbuk mesiu. Peradaban Timur Tengah mewariskan teknik sipil dan metalurgi. (Needham, 1954)
Dari bukti-bukti arkeologis, selama 11 ribu tahun terakhir, manusia berupaya membangun peradaban di berbagai zona planet bumi. Para filsuf Yunani era pra-Masehi berupaya mengetahui, apa pilar-pilar utama dari peradaban manusia. Para filsuf menemukan bahwa pilar-pilar peradaban masa itu ialah oikos (nilai-nilai dari level keluarga ), ethnos (nilai yang membetuk pijakan dasar, ciri khas, dan kesatuan terkecil masyarakat), ethos (kerja), dan teknos. Teknos adalah cara dan alat menyelesaikan masalah sehari-hari manusia. Misalnya, peradaban kuno Cina mewariskan kertas dan serbuk mesiu. Peradaban Timur Tengah mewariskan teknik sipil dan metalurgi. (Needham, 1954)
Yunani kuno terdiri dari pedagang dan pelaut, sedikit mempedulikan teknik, sehingga tidak menghasilkan banyak temuan. Mesir kuno mengembangkan teknik bedah tubuh manusia, metalurgi, alchemy, irigasi, hidrologi, water clock / clepsydra, dan baling-baling Archimedean. Masa itu teknik dan seni Eropa inferior dibanding Arab dan Cina. (Klemm, 1954)
Inferioritas Eropa berakhir karena kemajuan teknik sebagai karakter dan faktor pemacu industri modern Abad Pertengahan Eropa sejak abad 13 – 15 M. Industri Eropa menemukan kertas, bubuk mesiu, kompas laut, mesin cetak pers, roda spinning, bajak Saxon, kincir angin, mesin engkol, kemudi steering, ban leher kuda, jam kinematik, sanggurdi, dan senjata api. Sebagian besar temuan itu ditiru oleh Eropa dari Arab dan Cina. (Ferguson, 1968)
Kemajuan teknik di Eropa sejak abad pertengahan tidak hanya melahirkan revolusi industri, tetapi juga revolusi energi, kapitalisme berbahan bakar fosil dan kolonialisme. Akibatnya, selama hampir 800 tahun, zona Maluku adalah titik-temu arus peradaban Barat-Timur, Cina-India-Jepang dan Eropa (Portugal, Spanyol, Inggris, Belanda, dan Jerman) ketika bangsa-bngsa ini berupaya menguasai jalur rempah-rempah. Jejak awal dari koloni dan kolonialisme duniaberawal dari Maluku. Banda adalah koloni Inggris, koloni pertama di dunia. (Hanna, 1991) Jejak awal lahirnya kapitalisme dan titik-temu peradaban dunia adalah zona Maluku (Braudel, 1984; Muller, 1997) dan Banda dilukiskan sebagai ‘the Blessed Land’ (Winn, 1988; Winn, 2001). Maka bukan kebetulan, bahwa hingga awal abad 21, Maluku merupakan wilayah pemerintahanmodern tertua di Indonesia.
Filsuf dan ahli ekonomi-politik Skotlandia, Adam Smith, merilis buku The Wealth of Nations (1776). Dari perjalanannya keliling Eropa daratan, Smith yang melahirkan teori pembagian kerja, juga menyimpulkan bahwa harta bangsa-bangsa berbasis pada keahlian produktif, perdagangan, dan spirit moral. Ini pula dasar superioritas Eropa terhadap Asia dan Afrika. Mencermati superioritas Eropa, sejumlah tokoh di Jepang antara lain Ito Hirobumi, Matsukata Masayoshi, Kido Takayoshi, Itagaki Taisuke, Yamagata Aritomo, Mori Arinori, Okubo Toshimichi, dan Yamaguchi Naoyoshi (Jansen et al., 1986) melancarkan strategi restorasi. Jepang meniru Eropa. Meiji Ishin (enlightened rule)tahun 1868 memadukan “kemajuan Eropa” dengan “nilai tradisi Asia”. (Van Straelen et al, 1952)
Jepang menerapkan sistem cincin berbasis rakyat dan lahannya. Kaiser Jepang memerintahkan sistem kearsipan berbasis lahan dan sejarah rakyat. Sehingga oikos, ethnos, dan ethos menjadi satu simpul kekuatan. Struktur feodalisme—damyo, shogun, samurai, dan kelompok tani—dihapuskan. Spirit Samurai—kepahlawanan dan disiplin--diajarkan di sekolah. Reformasi pendidikan, pajak, lahan, upah, obligasi pemerintah, dan kepemilikan lahan diterapkan. (Beasley, W.G., 1995) Karakter dan adat-istiadat Jepang dirawat dan bahkan diperkuat melalui pendidikan. (Bestor, 2001: 1140-1158; De Bary, et al., 2001) Hasilnya, selama 145 tahun, sampai hari ini, pilar-pilar peradaban Jepang masih superior di Asia dan bahkan dunia.
Menjelang akhir 1970-an, Deng Xiaoping melancarkan restorasi Cina melalui reformasi dan keterbukaan (Gaige Kaifang). Deng Xiaping belajar dari Jepang dan membangun zona-zona Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Hanya waktu 30 tahun, Gaige Kaifang menyulap RRC dari tata-sosial-ekonomi petani ke superpower industri dengan GDP nomor 2 terbesar dunia setelah
Amerika Serikat (AS). Pijakan pada penguasaan teknos, agrikultur, penduduk 1,3 miliar,industri,dan tenaga kerja murah,mendukung daya-saing Cina. Hasilnya, Deng adalah arsitek pertumbuhan ekonomi paling cepat dalam sejarah umat manusia (Reuters, 26/6/2009).
Pergeseran pusat kekuatan ekonomi dan peradaban-peradaban tersebut di atas lebih dari sekedar “a continuum change’—atau kekekalan perubahan. Masa kini dan masa depan itu adalah perubahan. Atau versi sajak filsuf Heraclitus Yunani Kuno tahun 535 – 475 SM : “You can not step twice into the same river.” Kaki Anda tidak dapat melangkah dua kali ke sungai yang sama. Karena panta rhei (???ta ?e?), segala sesuatu selalu mengalir (rhei), bergerak dan berubah atau “everything flows.” (Barnes, 1982:65; Peters, 1967:178)
Sejak Perang Dunia II, Jepang adalah model ideal di Asia. Faktor pivotal role Jepang dan kemitraannya dengan AS melahirkan level kondusif stabilitas dan kemitraan Asia-Pasifik sejak era Perang Dingin 1970-an sampai awal abad 21 (Watanabe, 2004:143-144). Maka kemajuan ekonomi Korea Selatan, Taiwan, Cina, dan Asia Tenggara sulit dijelaskan tanpa mengkalkulasi faktor Jepang. Faktor Jepang diakui oleh arsitek modernisasi RRC, Deng Xiaoping, sejak tahun 1970-an. Deng mengutip dan merujuk pada pengalaman Restorasi Meiji sejak 1868 di Jepang: “Respect Knowledge, Respect Trained Personnel”pada tanggal 24 Mei 1977 di Beijing, RRC (Deng, 1977:1)
Maluku dapat meniru model Jepang untuk membangun peradaban. Maluku Kaya dapat diraih melalui sistem dan strategi peradaban seperti pernah diterapkan oleh Jepang. Jepang mengajarkan penguasaan teknos adalah juga pilar peradaban. Restorasi Meiji mengajarkan bahwa perlunya jaminan hukum, pengakuan hukum, dan perlindungan hukum terhadap aset-aset , kapital, hak, dan sejarah rakyat. Maka kini tiba saatnya, kita menata-ulang dan mengelola arsip-arsip daerah tentang aset-aset daerah, local wisdom, local heritage, dan local genius di Maluku selama ini.
Jaminan, pengakuan, dan perlindungan hukum terhadap kepemilikan lahan, aset, dan hak-hak cipta rakyat daerah adalah hal esensial untuk meraih fase ‘Maluku Kaya Abad 21’. Ini pula yang hendak saya suarakan dan perjuangkan melalui Gerakan Maluku Kaya. Restorasi Meiji mengajarkan rakyat dan lahannya adalah satu kesatuan. Hasil riset empiris ekonom Peru, Hernando de Soto (The Mystery of Capital, 2003) mengajarkan bahwa kapital, modal, atau kekayaan hanya tumbuh di suatu masyarakat dan negara yang melindungi, menjamin, dan mengakui secara formal (tertulis) setiap aset, hak, kepemilikan, dan kapital rakyatnya. Tanpa itu, ibarat membangun rumah di atas pasir.
Reformasi pendidikan untuk melahirkan sains dan teknologi harus didukung oleh infrastruktur sains, teknologi, dan infrastruktur dasar pendidikan. Pemda, masyarakat, dan swasta dapat membangun infrastruktur pendidikan. Selain itu, kita juga belajar dari kota paling lestari di planet bumi, yang dihuni selama 11 ribu tahun oleh manusia. Yaitu kota Jericho di Palestina. Kota ini adalah bangunan natural-kultural-spiritual.
Kini, tiba saatnya, kita belajar dari Jericho. Kita membangun peradaban di berbagai sektor kehidupan rakyat, mulai dari seni, budaya, pendidikan, kesehatan, teknologi, sains, ekonomi dan ekosistem. Konservasi SDA, kita raih melalui konservasi 4 pilar dasar ekosistem yakni tanah, air, pohon, dan gas. Kita pulihkan nilai dan pranata sosial, budaya, ekonomi, dan kearifan lokal yang luntur dan terkikis oleh saling-curiga dan konflik antar-kelompok. Ini yang menjadi kerinduan dan pengharapan yang membawa beta kembali ke Maluku. (*)
Oleh: Engelina Pattiasina
*) Penulis, Lulusan Bremen University–Germany
*) Penulis, Lulusan Bremen University–Germany
Posting Komentar untuk "Pasawari Maluku Kaya"